Surat untuk Bapak #9

Assalamualaikum, Bapak.

Hari ini Kamis keempat setelah Bapak ‘pulang’. How’s heaven, Pak? :’)

Pak, semalam aku banyak ngobrol sama Pujo. Walau ujung-ujungnya masih nangis, sih. Aku cerita ke dia kalau aku suka sedih dengan beberapa orang, yang mungkin niatnya mau menghibur dan menyabarkanku, tapi ternyata cara mereka salah. Pertama, orang tua mereka masih lengkap. Mereka selalu bilang tahu kesedihan aku. Tapi menurutku enggak, Pak, mereka nggak akan tahu itu sebelum salah satu orangtuanya ‘pergi’. Kedua, mereka suka sok tau nasihatin aku dengan ayat-ayatNya. Padahal, menurutku mereka belum “into it” kalo orang tuanya masih ada dua-duanya. Maafin aku ya, Pak, dengan berpikiran seperti itu.

Ada seorang juga yang minta aku bercerita ke dia kalau ada apa-apa. Tapi, untuk apa? Dengan aku cerita juga gak bisa bikin Bapak ‘balik’ lagi, khan? 🙁

Pak, aku masih sangat kehilangan. Akan selalu kehilangan. Walau aku tahu, Bapak pasti gak akan jauh dari aku. Bapak akan selalu terkandung di diriku. Di hatiku. Gak akan ada yang bisa ngegantiin, Pak.

Pak, aku kangen ngobrol apa aja sama Bapak. Telling jokes or even ngetawain omongan Bapak yang suka ga nyambung kalo kita lagi cerita. Se-simpel itu, Pak. Inget nggak sih waktu itu bapak sempet nggak inget sama aku? Aku sedih, Pak. Aku sampai bilang “Anaknya Bapak siapa? Namanya siapa?” Aku keukeuh nanya itu, karena aku nggak mau Bapak lupa sama aku. Tapi akhirnya, pas malam-malam Bapak tau dan inget aku. Walau dengan susah payah ngomongnya, aku udah seneng banget, Pak.

Bapak sayang, Birru makin pinter. Selalu excited tiap mau pergi ke ‘rumah’ Bapak, selalu dadah-dadah kalau kita lewat di depan jalan ‘rumah’ Bapak. Birru loves you that much, Eyang Bapak. Don’t you know that? :’)

Bapak, aku usap-usap dan cium Bapak dari jauh ya. Semoga Allah sampaikan salam sayang dan rindu dari aku untuk Bapak.

Al Fatihah 🙂

Leave a reply:

Your email address will not be published.