Surat untuk Bapak #8

Pak, it’s been a while since I wrote the last letter.

But, trust me, I still miss you everyday.

Makasih ya Pak, udah datang di mimpiku beberapa hari lalu. You’re gorgeous as always. Bapak senyum dan dadah-dadah ke aku. It was just sweet, Pak. :’)

Aku minta maaf kalo mungkin beberapa kali aku bersikap kurang menyenangkan di hari-hari terakhir bapak sebelum sakit. Aku tahu, mungkin Allah ngasih waktu yang gak lama supaya aku bisa ngurus Bapak. Tapi aku seneng, Pak, walau jujur aku masih sedih kalau tiba-tiba kangen Bapak.

Pak, makasih juga ya, udah inget Birru, bahkan di saat kesadaran Bapak udah menurun. He’s your legacy, Pak. Nama “Rajendra” dan “Parartha” yang melekat di nama Birru akan aku kenang sebagai peninggalan dari Bapak yang sangat berharga. Sama berharganya kayak Bapak dan Birru yang ada di hidup aku.

Aku kangen banget meluk dan cium-cium Bapak. Kayak dulu setiap bapak mau ke kampus, aku selalu minta peluk dan cium Bapak. Inget khan, Pak?

Besok adalah Kamis keempat Bapak “pergi”. Time flies ya, Pak. Tapi aku kayak masih berada di waktu yang sama, titik yang sama ketika aku kehilangan Bapak. Tapi Bapak akan nemenin aku terus, khan?

I love you, Bapak. Always.

Al-Fatihah :’)

Leave a reply:

Your email address will not be published.