Surat untuk Bapak #16

Assalamualaikum, Bapak.

Hai, Pak.

Bapak pasti tahu kejadian apa yang terjadi kemarin?

Maafin aku ya, Pak. Aku nggak bisa jadi sosok yang Bapak harapkan.

Aku hanya perempuan yang masih belajar jadi ibu, jadi orang tua. Perempuan yang belajar mandiri, mampu berdiri tanpa sosok Bapak. Karena apa? Aku nggak mau bergantung sama orang seolah orang itu bisa gantiin Bapak. Aku cuma ingin Bapak bahagia. Itu aja.

Aku tahu, selama aku hidup, Bapak nggak pernah maksa aku untuk jadi apa. Sekalipun nggak pernah. Bapak membebaskanku untuk ‘hidup’, untuk berkarya, untuk belajar, selama itu tidak bertentangan dengan agama. Aku sangat kagum dengan Bapak yang humanis, Bapak yang nggak pernah membeda-bedakan manusia. Aku pengen banget anak-anakku, cucu-cucu Bapak, mewarisi sikap Bapak itu, Pak.

Tapi aku juga tahu, Bapak meminta aku untuk jadi orang yang sabar. Sabar dalam segala hal, termasuk saat merawat anak. Aku tahu, Bapak menaruh harapan besar itu di aku. Walau Bapak nggak ada dalam bentuk fisik, I know you’re here Pak. Dan Allah baiiiiik sekali, mengirim Bapak dalam bentuk apapun. Bahkan, melalui hal-hal yang aku lakukan setiap hari.

Hari ini aku lihat sebuah video di Facebook. Video itu tentang kehidupan sebuah keluarga di India. Mereka sedang makan malam bersama, ada seorang ibu, anaknya, Nenek si anak, Kakek si Anak, dan mungkin beberapa kerabat dari si ibu. Intinya, ibu itu menghukum anaknya karena mencuri uang 10 rupee dari dompet kerabatnya. Si ibu nggak kasih makan anaknya. Perlakuan ibu itu dicaci oleh Nenek si anak dan kerabat-kerabat si Ibu. Ibu itu dinilai nggak bisa memperlakukan anak dengan baik. Ibu itu dipermalukan habis-habisan. Sampai pada akhirnya, Kakek si anak membela si ibu. Kakek itu bilang bahwa yang dilakukan ibu itu kepada anaknya benar. Kalau yang lain membela si anak karena “wajar mencuri karena masih kecil lalu maklumi saja”, mau jadi apa anak itu saat besar nanti kalau kecilnya sudah biasa mencuri. Ibu si anak merasa bahagia, karena akhirnya ada 1 orang yang membenarkan apa yang dilakukan dia.

Hal itu yang selalu Bapak lakukan ke aku. Ketika banyak orang nggak percaya dengan kemampuan aku, Bapak ada buat aku. Percaya aku bisa, tanpa memaksa dan memaki, apalagi dengan kekerasan. I miss you, Pak. I can’t do this all of things without you. Siapa yang akan bela aku, Pak?

So, yang aku bisa lakukan sekarang adalah to make you proud. Aku tahu, Bapak sudah bangga sama aku. Tapi aku mau terus bikin Bapak bangga, jadi aku bisa merasakan Bapak selalu ada di dekat aku.

Aku selalu menyesal, bahwa kita … aku nggak punya waktu untuk cerita langsung tentang ini ke Bapak. I’m so proud of you, Sir. I’m a very proud daughter. Aku bangga jadi anak Bapak, aku bangga punya Bapak di hidupku.

Aku sayang Bapak. Bapak tau, khan?

Al-Fatihah.

Leave a reply:

Your email address will not be published.