Surat untuk Bapak #13

Assalamualaikum Bapak sayang,

Aku rindu Bapak banget.

It’s another Thursday without you.

Maafin aku ya, pasti Bapak tau kalau minggu lalu aku kacau banget. Aku masih aja bertanya-tanya ke Pujo, kenapa Bapak begini, Bapak begitu. Padahal Bapak udah seneng.

Pak, aku sedih. Aku kesel dan sebel dengan suasana kantor. Susah sekali menerapkan prinsipku sendiri di sini. Padahal, punya prinsip itu penting bukan?

Aku belajar dari Bapak, untuk mencintai pekerjaan yang aku geluti. Tapi aku nggak mau melakukan sesuatu karena dipaksa, Pak. Karena itu bukan hatiku, bukan apa yang aku suka untuk kugeluti. Terus aku harus gimana, Pak?

Pak, Birru makin pinter. Birru sekarang udah tau Bapak ke mana. Kata Birru, aku nggak boleh sedih karena Bapak udah seneng disayang dan bobok bareng Allah. Kata dia, Bapak banyak temen, jadi pasti gak kesepian. Tapi aku kesepian, Pak. Gimana, dong?

Pak, maaf ya, aku masih berpikir semua hal sedang tidak adil ke aku. Waktu, nasib, apa pun! Padahal harusnya aku nggak boleh begitu khan ya Pak?

Pak, aku ada rencana mau ketemu temen-temen Bapak di kampus. Tapi aku nggak tau, kuat nggak ya aku denger cerita tentang Bapak dari mereka. Harusnya aku bangga khan ya Pak?

Payah banget ya aku, Pak, akhir-akhir ini. Kok terus-terusan cengeng. Padahal, you’re watching me over there khan, ya?

Jaga aku terus ya, Pak. Akunya sayang sekali. Rindu sekali …

Al-Fatihah.

Leave a reply:

Your email address will not be published.