Grieving

Ya, I just lost my Dad.

Udah hampir 2 bulan, but it still hurts me so bad. Gak bohong kalau minggu-minggu pertama saya agak kehilangan arah. Malas rasanya datang ke rumah Ibu, ya kayak gak ada siapa-siapa. ‘Rumah’ saya udah hilang. Sewaktu Bapak ada, sebenarnya saya juga merasa udah ada ‘jarak’. Itu mungkin karena saya udah nikah. Tapi, setelah ada Birru, jarak itu rasanya udah hilang.

Tapi sekarang, jarak itu akhirnya benar-benar ada. Saya masih bisa berkunjung ke ‘rumah’ Bapak, but personally, Bapak hilang. Now, I’m struggling with that. Mengikis jarak yang ada dan mendekatkan Bapak di hati saya, di manapun saya berada.

Udah hampir 2 bulan Bapak pergi. Rasanya cepat, tapi terlalu aneh. Setiap hari Kamis dan Jumat, saya masih suka kebayang-bayang. Hari Kamis, hari wafatnya Bapak. Hari Jumat, hari Bapak dimakamkan; hari di mana secara NYATA Bapak ‘hilang’ di mata saya. Beberapa kali saya masih suka nangis, nyari-nyari Bapak. Bertanya-tanya, kenapa Bapak pergi terlalu cepat. Sampai habis air mata. Literally.

Memasuki minggu ketiga, saya mulai masak. Sebelumnya, hih, jangan tanya. Telur sampai busuk di kulkas. Perlahan, saya mulai ngobrol dengan suami dan mertua tentang kenyataan yang saya jalani. I’m blessed, mereka sangat membantu saya untuk tetap berdiri tegak.

Saya dan Bapak mempunyai taste yang sama soal masakan. Saya dan Bapak suka lodeh, sambal goreng tahu santan, dan sambal goreng krecek kacang tolo buatan Ibu saya. Agar kami tetap ‘hidup’, saya minta Ibu saya untuk jangan berhenti masak. Walau pada kenyataannya, sebulan setelah Bapak saya wafat, dia baru mulai masak lagi, sih. Namanya juga move on yaa, bisa cepet bisa lambat.

Di minggu ketiga, orang-orang akhirnya ‘menemukan’ saya: saya yang hobi ngobrol, saya yang hobi nulis, saya yang hobi ketawa, saya yang hobi nonton dan jalan-jalan. Walau jujur, berat rasanya untuk kembali ke rutinitas semula. Rasanya seperti, buat apa tetap hidup, Bapakku udah hilang.. udah gak ada. Biasanya saya lalu istighfar. Minta maaf ke Bapak, dalam hati. Lalu sadar, he’s now on the right place: di sisi Allah SWT.

Now, I found myself. Pelan-pelan, namun pasti. I’m back on the track, as a mom, as somebody’s wife, dan sebagai penjaga kebahagiaan ibu saya. Gak boleh ada orang-orang heartless yang menyakiti ibu saya. Saya harus menjadi orang pertama yang melawan itu semua.

Mungkin sebagian teman-teman juga sudah tahu, salah satu cara saya mengatasi kesedihan saya adalah dengan menulis. Dulu, saya bercerita tentang apa saja kepada Bapak saya. Tentang Ahok, tentang Jokowi, tentang Birru, tentang situasi di kantor suami, tentang apa saja. bapak selalu mendengar dengan tekun. Bapak termasuk pendengar yang baik dan itu menular ke saya. Karena itu, akhir-akhir ini saya menulis #SuratuntukBapak. Surprisingly, banyak loh yang baca. Terlebih, banyak yang mengirim doa untuk saya dan keluarga agar selalu tabah menjalani kehidupan ke depan.

Doakan saya ya, supaya saya terus kuat. Karena saya tahu, Bapak pasti juga ingin saya terus bahagia dan hidup.

IMG_20180219_091832_876

2 comments: On Grieving

Leave a reply:

Your email address will not be published.