Berdamai dengan Diri Sendiri

Long weekend lalu, saya menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kawan-kawan Bapak semasa mengajar di kampus. Saya ingin silaturahmi terus berlanjut, walau Bapak sudah berpulang. Kawan-kawan Bapak yang saya temui kemarin ini, adalah beberapa dari orang-orang yang baiiiik sekali pada Bapak. Bapak sudah pensiun sejak 1999. Sejak saat itu, orang-orang ini tak putus berkomunikasi dengan Bapak yang otomatis makin jarang berada di kampus. Salah seorang dari mereka bahkan pernah menjadi dosen saya, dua diantaranya juga pernah menjadi panitia di acara pernikahan saya. Lalu, kenapa harus putus silaturahmi, pikir saya. Maka, sebagai anak tertua di keluarga, adalah tugas saya untuk tetap mengikat tali silaturahmi itu.

Sebenarnya ada satu tujuan saya kenapa sampai harus mengambil cuti 1 hari demi ke kampus. Saya ingin menyerahkan buku-buku peninggalan Bapak untuk di perpustakaan kampus. Walau saya berkuliah di tempat yang sama saat Bapak mengabdi sebagai pengajar, kami berbeda aliran. Bukan rock atau reggae, tapi minat saya ke Sastra Inggris sementara Bapak mengajar di Sastra Jawa. Kemungkinan saya akan memanfaatkan buku-buku peninggalan Bapak hampir tidak ada. Makanya, akan lebih baik jika buku-buku tersebut saya serahkan ke tempat di mana Bapak mengabdi semasa hidupnya.

Di sana, saya bertemu salah satu kawan Bapak, yang juga muridnya jaman baheula, dan juga sempat menjadi dosen saya. Saya memanggilnya “ibuku”, karena saking dekatnya. Namanya Bu Ita. Dia adalah salah satu pengajar di mata kuliah penyuntingan, yang saya ikuti saat menjalani program Diploma saya. Saya salah satu mahasiswanya yang paling dekat. Bukan karena Bapak adalah dosennya dulu, tapi karena saya suka personality-nya.

Saat Bapak sakit, saya tidak segan untuk menghubungi Bu Ita. Dia tau saya kalut. Hampir setiap hari ia menanyakan kondisi Bapak, sampai hari terakhir saat bapak wafat. Orang di lingkungan kampus yang saya peluk pertama kali saat Bapak wafat ya Bu Ita ini. She means a lot to me.

Kalau tidak salah, promosi doctor Bu Ita adalah gelaran kampus terakhir yang Bapak hadiri. Makanya, beliau juga ikut terpukul atas kepergian Bapak.

Akhirnya, setelah rangkaian pemakaman Bapak, kami bertemu kembali kemarin. We talked a lot, tentunya tentang Bapak. We miss him. I miss him more. Surprisingly, she knew it. Bu Ita tau rasa berduka saya masih dalam untuk Bapak.

Di blog seseorang, saya pernah membaca: “It takes forever to grieve someone you love”. So, I think it is an OK to grieve him. Selama hampir 100 hari ini, saya berpikir seperti itu.

Namun, Bu Ita minta saya untuk melepaskannya. Katanya: “nek kowe ikhlas, ojo digondheli” (kalau kamu ikhlas, jangan ditahan-tahan terus). Tapi, saya masih sedih, Bu, kata saya. Lalu, Bu Ita bilang: “lepaskan, lalu ikhlaskan, ben Bapak tenang.”

Saya juga bercerita, tentang saya menulis #SuratuntukBapak. Katanya, itu bagus, untuk pelampiasan. Tapi, cara saya salah. Dengan begitu, saya tidak akan pernah bisa melepas Bapak.

Jujur, saya sempat bingung. Kehilangan Bapak membuat saya berada kembali di ambang depresi. Ini lebih menyakitkan dari post partum depression. Way too much.

Saya takut, saya akan lupa Bapak. Saya takut nggak bisa jadi anak salihah untuk Bapak. Sedangkan yang membantu Bapak di sana salah satunya adalah doa anak salih, khan?

So, mulai minggu ini, saya mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan hari Kamis dan Jumat, berdamai dengan situasi kesepian tanpa Bapak, berdamai untuk memaafkan diri sendiri. Demi Bapak, demi orang-orang yang saya cintai, dan demi saya sendiri.

Doakan saya kuat, ya!

Leave a reply:

Your email address will not be published.