Blog Posts

Surat untuk Bapak #18

Assalamualaikum Bapak sayang, It’s been a while since my last letter. You know, life wasn’t easy. Terutama untuk Ibu. Kesayangan Bapak yang satu itu baru merasa kesepian. Alhamdulillah, kami anak-anak Bapak, sudah jauh lebih tenang dan gantian menenangkan Ibu. Ibu baru selesai dirawat di rumah sakit (lagi), Pak. Ibu rindu Bapak. Prita harus gimana ya, Pak? Berbicara itu gampang. Sabar yang susah. Mungkin kalau Prita belum kuat sampai sekarang, Prita belum bisa sabar karena kehilangan Bapak. Mungkin Ibu rindu, mungkin

Continue Reading

Terkadang.

Terkadang, orang kalau sedih cuma butuh dihibur. Bukan untuk ditanya “kenapa”. Terkadang, ada orang cuma ingin dingertiin. Bukan untuk diatur-atur. Terkadang, ada hal yang orang lakukan buat dirinya sendiri. Bukan unuk konsumsi publik. Terkadang, ada baiknya gak usah ikut campur urusan orang lain. Kecuali mau disumpahin merasakan yang sama. Terkadang, ada kalanya orang hanya butuh diam, tanpa ditanya-tanya. Terkadang, orang kalau sedih nggak butuh kalimat-kalimat penenang. Just listened to her/him! Terkadang, orang nggak perlu disuruh-suruh buat sabar. Karena sabar tanpa

Continue Reading

Berdamai dengan Diri Sendiri

Long weekend lalu, saya menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kawan-kawan Bapak semasa mengajar di kampus. Saya ingin silaturahmi terus berlanjut, walau Bapak sudah berpulang. Kawan-kawan Bapak yang saya temui kemarin ini, adalah beberapa dari orang-orang yang baiiiik sekali pada Bapak. Bapak sudah pensiun sejak 1999. Sejak saat itu, orang-orang ini tak putus berkomunikasi dengan Bapak yang otomatis makin jarang berada di kampus. Salah seorang dari mereka bahkan pernah menjadi dosen saya, dua diantaranya juga pernah menjadi panitia di acara pernikahan

Continue Reading

Surat untuk Bapak #17

Assalamualaikum, Bapakku sayang… It’s another Thursday without you, Sir. Bapak, aku kangen banget. Aku rindu rasanya Bapak ada, Bapak bukain pintu rumah untuk aku dan Birru, aku kangen salim tangan Bapak … Pasti sekarang rumah Bapak indah banget, ya. Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Pak. I wonder Pak, kalau aku sebegininya kangen Bapak, Bapak kangen juga nggak sih sama aku? Pak, you’re irreplaceable, you know that? Untuk segala hal baik yang terjadi setelah Bapak nggak ada, aku tahu, itu

Continue Reading

Surat untuk Bapak #16

Assalamualaikum, Bapak. Hai, Pak. Bapak pasti tahu kejadian apa yang terjadi kemarin? Maafin aku ya, Pak. Aku nggak bisa jadi sosok yang Bapak harapkan. Aku hanya perempuan yang masih belajar jadi ibu, jadi orang tua. Perempuan yang belajar mandiri, mampu berdiri tanpa sosok Bapak. Karena apa? Aku nggak mau bergantung sama orang seolah orang itu bisa gantiin Bapak. Aku cuma ingin Bapak bahagia. Itu aja. Aku tahu, selama aku hidup, Bapak nggak pernah maksa aku untuk jadi apa. Sekalipun nggak

Continue Reading

Surat untuk Bapak #15

Assalamualaikum, Bapak sayang. It’s another Thursday without you, Pak. I miss you terribly. Do you even miss me, Pak? :’ Pak, semalam aku dan ibu sama-sama ngehitung kapan 100 hari Bapak pergi. It still so unreal, Pak. Aku nggak pernah bayangin, ternyata hari di mana aku kehilangan Bapak akan se abu-abu ini. Gak pernah sekalipun ada di benakku akan ngehadapin ini semua. Dan entah dari mana, kekuatan datang dari mana aja, Pak, buat kita sekeluarga. Pak, I miss your voice.

Continue Reading

Mengatasi ‘Musuh Setia’ bernama ISK

Bagi orang-orang yang cukup mengenal saya, saya dikenal sebagai perempuan yang gak bisa diem, walaupun mayoritas waktu bekerja saya dihabiskan dengan duduk. Saya aktif bekerja sejak tahun 2008. Karier pertama saya bekerja kantoran adalah di bidang humas. Walaupun suka wara wiri untuk protokol acara kehumasan, hari-hari saya selalu berakhir di kursi. Entah itu untuk menulis artikel, mendesain, atau membuat laporan harian. Di suatu hari pada pertengahan 2009, saya merasa kurang enak badan. Rasanya seperti masuk angin, tapi bawannya ingin buang

Continue Reading

Surat untuk Bapak #14

Assalamualaikum Bapak sayang. Prita alhamdulillah baik-baik aja, Pak. Kemarin, ibu hampir seminggu dirawat. Biasa deh bandel, gak mau jaga makanan. Mudah-mudahan Bapak selalu jaga ibu, ya, biar ibu gak bandel lagi terus trombositnya drop lagi. Pak, waktu ibu dirawat, bed sebelah ibu ada yang wafat. Aku bener-bener dengar semuanya, dari beliau masih bernafas, ngorok, sampai hilang nafas. Aku sempat tertegun. Apa itu ya yang aku hadapi kalau aku nemenin Bapak di waktu terakhir? Alhamdulillah, aku gak trauma. Bapak pengen aku

Continue Reading

Surat untuk Bapak #13

Assalamualaikum Bapak sayang, Aku rindu Bapak banget. It’s another Thursday without you. Maafin aku ya, pasti Bapak tau kalau minggu lalu aku kacau banget. Aku masih aja bertanya-tanya ke Pujo, kenapa Bapak begini, Bapak begitu. Padahal Bapak udah seneng. Pak, aku sedih. Aku kesel dan sebel dengan suasana kantor. Susah sekali menerapkan prinsipku sendiri di sini. Padahal, punya prinsip itu penting bukan? Aku belajar dari Bapak, untuk mencintai pekerjaan yang aku geluti. Tapi aku nggak mau melakukan sesuatu karena dipaksa,

Continue Reading

Grieving

Ya, I just lost my Dad. Udah hampir 2 bulan, but it still hurts me so bad. Gak bohong kalau minggu-minggu pertama saya agak kehilangan arah. Malas rasanya datang ke rumah Ibu, ya kayak gak ada siapa-siapa. ‘Rumah’ saya udah hilang. Sewaktu Bapak ada, sebenarnya saya juga merasa udah ada ‘jarak’. Itu mungkin karena saya udah nikah. Tapi, setelah ada Birru, jarak itu rasanya udah hilang. Tapi sekarang, jarak itu akhirnya benar-benar ada. Saya masih bisa berkunjung ke ‘rumah’ Bapak,

Continue Reading