Blog Posts

Blabbering

Sebelum punya anak, saya pernah berjanji sama Jups. Saya gak bakal bersikap seperti siapapun dalam membesarkan anak, termasuk dengan cara ibu saya. Walaupun pada kenyataannya susah, masih ada sedikit bumbu bekas trauma masa kecil, saya sedikit banyak berhasil merawat Iyu dengan cara saya. Kali ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak membesarkan anak-anak saya dengan memandang perbedaan dari masing-masing diri mereka. Setiap orang berhak ‘jago’ dalam suatu atau beberapa hal. Sebagai orang tua, saya mau mendukung apapun itu, selama

Continue Reading

Surat untuk Bapak #20

Halo, Bapak. Maaf, aku udah lama nggak menyapa. Tapi, insya Allah semua doaku menyapamu di sana. So, how’s up there, Pak? Aku kangen sekali. Terkadang sampai nyeri. Lubangnya ternyata masih ada. Lubang di hati karena Bapak hilang. As you know, banyak hal yang terjadi, Pak. Hidup memang terkadang tak seperti yang diharapkan. Ingin move on, tapi ada yang tetap ‘stay’. Ingin tinggal, tapi aku taku kalau nggak bisa maju. Serba salah, Pak. Terkadang, ingin rasanya sedih terus, sambil mengingat Bapak.

Continue Reading

Surat untuk Bapak #19

Assalamualaikum, Bapak. It’s been a while since I wrote the last letter. It doesn’t mean that I forget about you. In fact, I still miss you every day. Pak, ini hari Kamis loh. Nggak kangen sama aku, Pak? Hari ini tuh semesta kayak ngedukung banget buat tambah kangen Bapak. Di mana-mana muncul tag-an foto Bapak, gak di facebook atau di HP. Bikin tambah kangen :’) Mbak kangen, Pak. Kangeeen banget, kangen cerita sama Bapak, kangen dengar suara Bapak, kangen kalau

Continue Reading

Surat untuk Bapak #18

Assalamualaikum Bapak sayang, It’s been a while since my last letter. You know, life wasn’t easy. Terutama untuk Ibu. Kesayangan Bapak yang satu itu baru merasa kesepian. Alhamdulillah, kami anak-anak Bapak, sudah jauh lebih tenang dan gantian menenangkan Ibu. Ibu baru selesai dirawat di rumah sakit (lagi), Pak. Ibu rindu Bapak. Prita harus gimana ya, Pak? Berbicara itu gampang. Sabar yang susah. Mungkin kalau Prita belum kuat sampai sekarang, Prita belum bisa sabar karena kehilangan Bapak. Mungkin Ibu rindu, mungkin

Continue Reading

Terkadang.

Terkadang, orang kalau sedih cuma butuh dihibur. Bukan untuk ditanya “kenapa”. Terkadang, ada orang cuma ingin dingertiin. Bukan untuk diatur-atur. Terkadang, ada hal yang orang lakukan buat dirinya sendiri. Bukan unuk konsumsi publik. Terkadang, ada baiknya gak usah ikut campur urusan orang lain. Kecuali mau disumpahin merasakan yang sama. Terkadang, ada kalanya orang hanya butuh diam, tanpa ditanya-tanya. Terkadang, orang kalau sedih nggak butuh kalimat-kalimat penenang. Just listened to her/him! Terkadang, orang nggak perlu disuruh-suruh buat sabar. Karena sabar tanpa

Continue Reading

Berdamai dengan Diri Sendiri

Long weekend lalu, saya menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kawan-kawan Bapak semasa mengajar di kampus. Saya ingin silaturahmi terus berlanjut, walau Bapak sudah berpulang. Kawan-kawan Bapak yang saya temui kemarin ini, adalah beberapa dari orang-orang yang baiiiik sekali pada Bapak. Bapak sudah pensiun sejak 1999. Sejak saat itu, orang-orang ini tak putus berkomunikasi dengan Bapak yang otomatis makin jarang berada di kampus. Salah seorang dari mereka bahkan pernah menjadi dosen saya, dua diantaranya juga pernah menjadi panitia di acara pernikahan

Continue Reading

Surat untuk Bapak #17

Assalamualaikum, Bapakku sayang… It’s another Thursday without you, Sir. Bapak, aku kangen banget. Aku rindu rasanya Bapak ada, Bapak bukain pintu rumah untuk aku dan Birru, aku kangen salim tangan Bapak … Pasti sekarang rumah Bapak indah banget, ya. Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Pak. I wonder Pak, kalau aku sebegininya kangen Bapak, Bapak kangen juga nggak sih sama aku? Pak, you’re irreplaceable, you know that? Untuk segala hal baik yang terjadi setelah Bapak nggak ada, aku tahu, itu

Continue Reading

Surat untuk Bapak #16

Assalamualaikum, Bapak. Hai, Pak. Bapak pasti tahu kejadian apa yang terjadi kemarin? Maafin aku ya, Pak. Aku nggak bisa jadi sosok yang Bapak harapkan. Aku hanya perempuan yang masih belajar jadi ibu, jadi orang tua. Perempuan yang belajar mandiri, mampu berdiri tanpa sosok Bapak. Karena apa? Aku nggak mau bergantung sama orang seolah orang itu bisa gantiin Bapak. Aku cuma ingin Bapak bahagia. Itu aja. Aku tahu, selama aku hidup, Bapak nggak pernah maksa aku untuk jadi apa. Sekalipun nggak

Continue Reading

Surat untuk Bapak #15

Assalamualaikum, Bapak sayang. It’s another Thursday without you, Pak. I miss you terribly. Do you even miss me, Pak? :’ Pak, semalam aku dan ibu sama-sama ngehitung kapan 100 hari Bapak pergi. It still so unreal, Pak. Aku nggak pernah bayangin, ternyata hari di mana aku kehilangan Bapak akan se abu-abu ini. Gak pernah sekalipun ada di benakku akan ngehadapin ini semua. Dan entah dari mana, kekuatan datang dari mana aja, Pak, buat kita sekeluarga. Pak, I miss your voice.

Continue Reading

Mengatasi ‘Musuh Setia’ bernama ISK

Bagi orang-orang yang cukup mengenal saya, saya dikenal sebagai perempuan yang gak bisa diem, walaupun mayoritas waktu bekerja saya dihabiskan dengan duduk. Saya aktif bekerja sejak tahun 2008. Karier pertama saya bekerja kantoran adalah di bidang humas. Walaupun suka wara wiri untuk protokol acara kehumasan, hari-hari saya selalu berakhir di kursi. Entah itu untuk menulis artikel, mendesain, atau membuat laporan harian. Di suatu hari pada pertengahan 2009, saya merasa kurang enak badan. Rasanya seperti masuk angin, tapi bawannya ingin buang

Continue Reading